Memahami Peran Pelatihan Hiperkes & KK bagi Dokter dan Paramedis

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat terjadi sekitar 123 ribu kasus  kecelakaan kerja sepanjang 2017. Padahal kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja tidak hanya menimbulkan kerugian materi  atau korban jiwa,  tapi  juga mengganggu proses produksi  dan merusak lingkungan. Oleh sebab itu, keselama tan kerja menjadi hal wajib dalam setiap pekerjaan.

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi sebuah keharusan bagi  perusahaan.  Salah satunya dengan memberikan pelatihan keselamatan kerja bagi dokter serta paramedis (Perawat dan Bidan). Setiap perusahaan melalui organisasinya harus berperan proaktif dalam menyelenggarakan usaha preventif untuk menyelesai kan problema kesehatan di lingkungan  kerja serta mengidentifikasi dan  mengendalikan potensi bahaya. Selain itu, juga untuk mencegah Penyakit Akibat Kerja (PAK) serta memantau pe lak sanaan  program K3 lainnya.

Tindakan ini bertujuan agar tenaga kerja men dapat kan perlindungan saat bekerja, terjaminnya  keselamatan tenaga kerja, serta sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.

Pelatihan Hiperkes & kk oleh PT Medika Media Mandiri

Melalui Pelatihan Hiperkes, dokter dan paramedis diharapkan dapat lebih memahami akan pentingnya peran tenaga medis di perusahaan. Maka, sertifikasi Hiperkes menjadi acuan agar dokter  dan paramedis mendapat pengetahuan serta pelatihan untuk memahami konsep penerapan K3 di lapangan serta  menjamin kesehatan di lingkungan kerja maupun perusahaan. Program Pelatihan Hiperkes bagi dokter merupakan program untuk  membant u pemerintah dalam rangka mewujudkan pekerjaan dan penghi dupan yang layak. Sesuai UUD 1945 Pasal 27, Ayat 2 yang berbunyi: Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghi dupan yang l ayak bagi  ke manusiaan.

 

Pelatihan Hiperkes dalam menyelenggarakan usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif  di bidang keselamatan dan kesehatan kerja, sangat penting untuk memberikan kesehatan kepada tenaga kerja, mengendalikan potensi bahaya yang ada di tempat kerja,

dan mencegah penyakit akibat kerja. Karena itu, Pemerintah mengatur kewajiban pelatihan Hiperkes bagi dokter perusahaan melalui Permena kertrans No. 01 Tahun 1976, tentang kewajiban latihan higiene perusahaan kesehatan dan keselamatan kerja bagi tenaga dokter perusahaan. Adapula Permenakertrans No. 01 Tahun 1979 mengenai kewajiban pelatihan Hiperkes bagi paramedis perusahaan. Oleh karena itu, PT. Medika Media Mandiri (Jurnal Kedokteran Medika) bekerj a sama dengan Kementeri an  Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) rutin menyelenggarakan Pelatihan Hiperkes dan KK (Higiene Perusahaan,  Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dengan sertifikat Hiperkes yang berlaku seumur hidup.  Jurnal Kedokteran Medika sudah tersertifikasi Kementerian Ketenagakerjaan RI , terakreditasi SKP Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia ( PBIDI ) ,  serta mendapat akreditasi SKP Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Salah satu seminar Hiperkes yang suda h diselenggarakan berlangsung tanggal 26 Maret – 31 Maret 2018.

Seminar ini rutin digelar di Hotel Puri Jaya, Jakarta Pusat. dr. Seno Purnomo, selaku Ketua Badan Informasi Data  Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dan Direktur Utama PT. Medika Media Mandiri, memaparkan penting nya faktor bi ol ogi  di  perusahaan. Kebiasaan mencuci tangan menjadi fakto r penti ng untuk mencegah penulara n suatu penyakit, terutama yang dapat ditularkan melalui sentuhan. Mikroorganisme, seperti virus, bakteri, dan fungi dapat dengan mudah ditular kan dari pasien ke dokter dan tenaga medis. Oleh karena itu, dokter dan Paramedi s yang memeri ksa pasi en harus sering mencuci tangan. Selanjutnya, dr. Mahesa Paranadipa, selaku Ketua Bidang Organisasi dan Sistem Informasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menjelaskan penti ngnya penerapan K3 sebagai preven tif, promotif, kuratif, dan reha bilitatif. Upaya tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan untuk memantau kasus kecelakaan kerja dan penyakit akib at pekerjaan.  Alat pelindung diri menjadi sarana yang wajib disediakan oleh perusahaan dan wajib digunakan karyawan selama bekerja. Ada beberapa alat pelindung diri. Pertama, Alat  Pelindung Kepala, seperti helm, tutup kepala, topi yang berfungsi untuk melindungi kepala dari benturan benda keras, maupun melindungi dari kotoran dan debu. Kedua, Alat Pelindung Mata, seperti kaca mata, googl es,  ataupun face shi el d yang berfungi untuk melindungi mata dari percikan cairan kimia yang berbahaya serta melindungi mata dari percikan lain. Ketiga, Alat Pelindung Pernafasan, seperti masker full face respiratory untu k mel i ndungi  pernafasan dari parti ke l  debu dan uap berbahaya, cemaran gas organi k maupun gas anorgan ik, terutama cemaran dari lim – ba h B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya). Keempat, Alat Pelindung Pendengaran, seperti ear plug dan ear muffler yang dapat melindungi pendengaran dari kebis ingan di lingkungan kerja. Kelima, Alat Pelindung Tangan, seperti sarung tangan yang dapat melindungi tangan dari objek yang bersuhu tinggi maupun obj ek yang bersuhu di ngi n.  Dan keenam, Alat Pelindung Kaki, seperti sepatu yang dapat melindungi kaki dari cedera tertimpanya material di pabrik. kunjungan ke perusahaan Salah satu materi dari seminar yang berlangsung selama 6 hari tersebut adalah kunjungan ke perusahaan. Kali ini, peserta Hiperkes dokter terdiri dari 109 peserta yang dibagi menjadi tiga kelompok mengunjungi pabrik kosmetik di Indonesia, yaitu PT. Martina Berto.

Pabrik pembuatan kosmetik ini dikenal karena menjunjung tinggi budaya Timur atau budaya asli Indonesia dan tergabung dalam Martha Tilaar Group.

Para peserta Hiperkes di beri kan pemaparan seputar pentingnya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kese hatan Kerja (SMK3) di perusahaan. Perusahaan ini memiliki budaya K3 dan Medical Check Up (MCU) setiap tahun. Hal ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan karyawan, terutama di area produksi. Selanjutnya, para peserta Hiperkes diajak berkeliling pabrik, mulai dari museum perusahaan yang menyimpan dokumentasi tentang kecantikan dari masa ke masa, hingga cara pembuatan  kosmeti k dari teknologi sederhana ke teknol ogi  modern.

Setelah melihat museum, peserta me lihat proses pembuatan kosmetik, mulai dari pencampuran bahan, membuat bentuk kosmetik hingga packaging. Dipabrik ini, terdapat area pengujian ke ta hanan produk terhadap sinar matahari langsung sehingga memenuhi prosedur pembuatan kosmetik yang baik.  Di  bagi an l uar pabri k terdapat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Limbah dari pabrik harus diolah sebelum di buang ke lingkungan agar limba h tidak mencemari lingkungan. Di akhir kunjungan, peserta mendatangi factory outlet yang memajang semua produk dan berbelanja dengan voucher yang di beri kan pani ti a. Dengan di adakan kunjungan perusahaan, peserta di harapkan dapat menambah i l mu menge nai SMK3 serta dapat  mengapli kasikan ilmunya di perusahaan.

Setelah mengikuti sertifikasi pelatihan Hiperkes, para peserta juga semakin memahami pentingnya peran tenaga medis serta memahami konsep penerapan K3 di lapa ngan, dan menjamin Keselamatan dan kesehatan kerja maupun lingkung an perusahaan.

(ekO)

Leave a Reply

Your email address will not be published.